Pendakian tektok Gunung Sumbing via Butuh Kaliangkrik bukanlah pendakian yang ringan. Jalur yang panjang, perubahan cuaca yang cepat, serta manajemen ritme langkah menjadi faktor penting dalam keberhasilan pendakian. Karena itu, banyak pendaki memilih menggunakan jasa pemandu agar perjalanan lebih aman dan terarah.
Dalam kesempatan ini, saya akan berbagi pengalaman memandu pendakian tektok Gunung Sumbing bersama Alivia, seorang pendaki dari Tangerang yang sedang mudik ke Temanggung.
Awal Komunikasi Pendakian Tektok
Perjalanan ini berawal dari pesan WhatsApp yang masuk pada tanggal 24 Maret 2026. Pendaki menanyakan kebutuhan pemandu untuk pendakian tektok Gunung Sumbing via Butuh Kaliangkrik, mulai dari harga, waktu terbaik berangkat, hingga rencana perjalanan.
Setelah melalui komunikasi singkat, kami menyepakati pendakian tektok dilakukan pada dini hari. Awalnya saya mengira yang akan melakukan tektok adalah yang bersangkutan, namun ternyata adalah temanya seorang pendaki wanita bernama Alivia dari Tangerang.
Dalam komunikasi lanjutan, diketahui bahwa Alivia sedang mudik ke rumah neneknya di Kabupaten Temanggung. Hal ini memudahkan koordinasi karena lokasi tidak terlalu jauh dari basecamp Butuh Kaliangkrik.
Kami kemudian menyepakati:
- Meeting point: Parkiran Nepal Van Java
- Tanggal: 23 Maret 2026
- Waktu: 20.30 WIB
- Start pendakian: 24 Maret 2026 pukul 02.00 WIB
Start Pendakian Dini Hari dari Basecamp Butuh
Setelah bertemu di parkiran Nepal Van Java, saya mengajak pendaki menuju basecamp untuk beristirahat. Pukul 01.30 pendaki saya bangunkan, kemudian saya mengurus registrasi pendakian. Tepat pukul 02.00 kami memulai pendakian.
Di awal jalur menuju Pos 1, saya berjalan di depan. Namun pendaki mencoba mengejar langkah saya, padahal ritme tersebut bukan ritme alaminya. Akibatnya, pendaki mengalami mual dan muntah.
Melihat kondisi tersebut, saya langsung mengubah strategi dengan berjalan di belakang. Saya memberi arahan untuk mengatur napas, memperlambat langkah, dan mengikuti ritme tubuh sendiri. Setelah itu kondisi mulai membaik dan kami berhasil mencapai Pos 1 untuk beristirahat sejenak.
Perjalanan Menuju Puncak Gunung Sumbing
Setelah istirahat, pendakian dilanjutkan menuju Pos 2, Pos 3, dan Pos 4. Jalur pendakian cukup stabil dengan kondisi cuaca yang relatif baik. Pendaki mampu menjaga ritme hingga akhirnya kami tiba di puncak pada pukul 11.00 siang.
Total durasi pendakian menuju puncak sekitar 9 jam. Sesampainya di puncak, saya membuatkan teh panas untuk menghangatkan tubuh. Di tengah suhu dingin puncak Gunung Sumbing, secangkir teh hangat terasa sangat nikmat.
Kami juga mengambil beberapa dokumentasi sebagai kenang-kenangan sebelum akhirnya memutuskan turun pada pukul 12.00 siang.
Perjalanan Turun Diguyur Hujan
Dalam perjalanan turun, sebelum Pos 3 kami diguyur hujan hingga pertengahan jalur antara Pos 2 dan Pos 1. Hujan tidak terlalu lebat sehingga kami tidak menggunakan jas hujan. Meski demikian, jalur menjadi lebih licin dan perjalanan harus dilakukan lebih hati-hati.
Memasuki jalur setelah Pos 2, pendaki mulai merasakan sakit pada lutut akibat kelelahan. Kecepatan perjalanan pun melambat. Kami mengatur ritme turun agar tetap aman hingga akhirnya tiba di basecamp pukul 15.30 WIB.
Durasi perjalanan turun dari puncak ke basecamp sekitar 5 jam 30 menit. Pendakian tektok Gunung Sumbing via Butuh Kaliangkrik ini pun selesai dengan selamat.
Pendakian Bukan Tentang Puncak Semata
Pendakian ini kembali mengingatkan bahwa mendaki bukan tentang pembuktian atau mencari pujian. Pendakian adalah proses memahami diri sendiri, mengatur ritme langkah, mengenali batas kemampuan, serta belajar menghadapi kondisi alam.
Gunung mengajarkan bahwa setiap langkah memiliki arti. Tidak perlu terburu-buru, tidak perlu memaksakan diri. Yang terpenting adalah pulang dengan selamat dan membawa pengalaman berharga.
Bagi Anda yang ingin melakukan pendakian tektok Gunung Sumbing via Butuh Kaliangkrik, menggunakan pemandu dapat membantu mengatur ritme perjalanan, manajemen waktu, serta meningkatkan keselamatan selama pendakian.
